Muhammadiyah Jawa





Muhammadiyah Jawa oleh Ahmad Najib Burhani diterjemahkan dari Te Muhammadiyah’s attitudeto Javanese Culture in 1912-1930: Appreciation and Tension Karya Ahmad Najib Burhani, Tesis Master, Universitas Leiden, Belanda, 2004


Cetakan I : Juni 2010 M / Jumadil Akhir 1431 H
xxii + 206 hlm., 21 x 14 cm
ISBN: 978-979-19415-0-3
Pdf file: DOWNLOAD


Buku ini membuka wawasan pembaca tentang hubungan Muhammadiyah dengan budaya Jawa. Dengan data-data yang bersumber kepada referensi-referensi tertulis yang otentik dan wawancara mendalam dengan nara sumber yang terpercaya,Buku ini sangat menarik karena memaparkan telaah sejarah dan budaya tentang Muhammadiyah yang sekarang ini dianggap tidak “nJawani” (baca: jauh dari identitas Jawa dan kurang toleran dengan budaya Jawa maupun budaya secara umum). Sementara secara historis, justru Muhammadiyah sangat kental dengan budaya Jawa. Salah satu penyebabnya menurut penulis adalah berkembangnya ideologi Wahabi dan bercampurnya budaya lain. Dan setelah Mekah  Madinah dikuasai oleh Saud-Wahabi. Sebagai organisasi yang identik dengan gerakan Wahabi, Muhammadiyah lantas menjadi kurang toleran terhadap tradisi masyarakat setempat. Muhammadiyah memang memilih untuk mensenyawakan nilai-nilai Islam pada budaya Indonesia untuk adanya “Indonesia yang Islami” dari pada “Islam yang Indonesiawi”. Berbeda dengan dahulu, KH Ahmad Dahlan atau Raden Ngabehi Muhammad Darwisy sebagai pendirinya. Beliau mampu mewarnai kraton dan masyarakat Jawa tanpa harus berpisah atau memusuhi. Justru dalam diri Beliau, Islam dan kejawaan menjadi entitas tunggal, seperti konsep sastra gending dimana Islam menjadi sastra yang diiringi gending Jawa. 


Identitas Budaya Jawa
Pulau Jawa yang terletak dibagian selatan negara Indonesia ini dihuni oleh berbagai suku dan etnis yang dimana orang Jawa sebenarnya hanya mendominasi bagian tengah, dan separo bagian timur pulau ini. Bagian barat dihuni oleh orang Sunda, sedangkan bagian yang paling timur dihuni oleh orang Madura. Dalam menyikapi bermacam-macam suku dan etnis tersebut orang Jawa juga punya budaya tersendiri budaya Jawa tidaklah homogen. Budaya Jawa dikatakan merupakan budaya yang memadukan unsur-unsur dari pra-Hindu, Hindu, Buddha, dan Islam yang dimana itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dijadikan sebuah kebiasaan masyarakat Namun, konsep identitas budaya terbangun secara sosial dalam konteks historis dan geografs. Identitas itu berubah seiring dengan waktu. Menurut Ricklefs, Jawa awalnya baru diterima sebagai penanda identitas sebuah kelompok masyarakat pada awal abad kedelapan belas dan akhir abad kedelapan belas, agaknya etnisitas Jawa umumnya diartikan berkenaan dengan Islam. Hukum Islam tengah diperkenalkan oleh keraton-keraton. Beberapa bangsawan dikenal mempunyai komitmen kuat terhadap Islam, terutama Pakubuwana II (1726-49), Mangkunegara I (1757–95), dan pemimpin Perang Jawa (1825–30) Pangeran Diponegara. Hubungan harmonis antara Islam dan Jawa retak pada akhir 1828 atau lebih awal setelah meletusnya Perang Jawa yang didalangi oleh  Pemerintah Belanda.


Paradigma Lama Orientalis
            Seperti yang kita lihat di kalangan para antropolog yang pernah mengkaji Jawa abad kedua puluh, istilah santri dan abangan Muhaimin menyebutkan bahwa istilah “abangan” merujuk pada para pengikut Syekh Lemah Abang (Syekh Siti Jenar), tokoh wali sanga yang controversial. Lihat A.G. Muhaimin, “Te Islamic Traditions of Cirebon: Ibadat and Adat Among Javanese Muslims”, disertasi tak diterbitkan, Canberra: Te Australian National University, 1995. Dalam perspektif Kompeni Hindia Timur Belanda dan Pemerintah Belanda beranggapan bahwa orang-orang Jawa adalah Muslim (Mohammedans). Namun, Poensen melaporkan bahwa orang Jawa membagi diri mereka dalam dua kategori: bangsa putihan dan bangsa abangan. Yang pertama merujuk ke kelompok orang yang menganggap Islam sebagai jalan hidup mereka lahir dan batin, sedangkan yang kedua merujuk mayoritas orang Jawa yang menerima Islam sebagai agama formal mereka, dengan perkembangan islam yang secara signifikan tersebut Pemerintah Kolonial berusaha memerangi dan melemahkan cengkeraman Islam di Indonesia dengan cara mengasosiasikan atau menjerumuskan priyayi dengan budaya Belanda dan merusak hubungan mereka dengan Islam. Westernisasi memang menjadi cara jitu untuk mendeislamisasi Indonesia, khususnya Jawa, dan mendesain model baru Indonesia (“Indonesia modern”).

Paradigma yang Berpusat pada Islam
            Runtuhnya kolonialisme dan dekonstruksi orientalisme memicu dan membuat pergeseran dalam paradigma untuk menganalisis masyarakat Jawa sehingga orientali-orientalis baru bermunculan pada masa itu. Salah satunya yaitu Woodward menggunakan perspektif baru ini secara eksplisit dalam deskripsinya tentang hubungan antara Islam dan Jawa di beberapa tulisannya seperti Islam in Java (1989), “Toward a New Paradigm” (1996) dan “Te Slametan” (1998). Menurut Woodward, agama Jawa, di istana dan di desa, tidak punya akar dalam tradisi Hindu/Buddha atau animisme. Tidak ada cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa peradaban pra-Islam sangat berpengaruh terhadap berbagai keyakinan Jawa. Ia membuktikan bahwa orang Jawa punya akar dalam budaya India, ia malah menegaskan bahwa Islam mengarahkan tatakrama dan standar etika kehidupan sehari-hari orang Jawa, dalam segala bentuk dan keadaan. Islam telah meresap begitu cepat dan mendalam ke dalam anyaman budaya Jawa karena ia dianut oleh istana-istana kerajaan sebagai landasan bagi negara teokratis.
            

Komentar